Friday, October 3, 2008

Perioda 1994 II

♦

Master Choa di masa mudanya, tampan ya? Bukannya sengaja berpose, tetapi sedang mengajarkan Penyembuhan Prana yang resmi untuk pertama kali di selenggarakan di luar Filipina. Walau sebelumnya sejak 1988 sudah beberapa kali mengadakan lokakarya kecil di Jakarta dan Padang. (94 08 20 07 pra M).

♦

Menunggu lokakarya di mulai. (94 08 20 06 pra M).

♦

Beliau mengajar dengan gaya yang khas, lugas, sederhana dan mudah dipahami. (94 08 20 08 pra M).

♦

Master Choa Kok Sui yang dibantu oleh seorang penterjemah sedang memandu lokakarya Penyembuhan Prana yang pertama kali diadakan di Indonesia, bertempat di gedung Bentara Budaya, Jakarta, November 1994.

♦

Menjelaskan bagaimana cara melihat prana udara. (94 08 20 02 M).

♦

Para peserta dengan serius mencoba melihat prana udara, ternyata tidak sulit ya. (94 08 20 03 M).

♦

Dengan serius mendengarkan pembicaraan seorang peserta. (94 08 20 01 pra M).

♦

Coba saya lihat name tag Anda, siapa namanya? (94 08 20 04 M).

♦

Hari sabtunya, Master kembali mengadakan lokakarya di Bentara Budaya, nampak para peserta memberikan salam kepada beliau. ( 94 08 27 12 pra M).

♦

Master Choa sedang membuka kegiatan hari itu. (94 08 27 11 pra M).

♦

Nampak dalam gambar Master Choa sedang memberikan penjelasan kepada para peserta lokakarya. (94 08 27 01 M).

♦

Seperti dalam setiap lokakarya prana, Master Choa selalu mendemonstrasikan dan membuktikan kemanjuran teknik penyembuhan yang sedang dibahas. (94 08 27 14 pra M).

♦

Master Choa sedang mendengarkan tanggapan dari seorang peserta. (94 08 27 16 pra).

♦

Praktek penyembuhan juga dilakukan di depan kelas. (94 08 27 15 pra M).

♦

Praktek melakukan penelusuran. (94 08 27 02 pra M).

♦


Semua peserta juga mencoba merasakan energinya. (94 08 27 04 pra).

♦

Master Choa sedang menunjukkan cara melakukan penelusuran yang benar. (94 08 27 13 pra M).

♦

Di depan kelas Master Choa mendemonstrasikan cara menyembuhkan seorang anak. (94 08 27 07 pra M).

♦

Seorang peserta juga ingin di sembuhkan, seperti biasa, Master Choa tidak pernah menolak. (94 08 27 08 pra M).

♦

MasterChoa mengakhiri lokakarya yang diselenggarakan selama dua hari itu. (94 08 09 pra M).

♦

Sebagai ucapan terima kasih, penyelenggara menyerahkan kenang-kenangan berupa karikatur wajah Master. (94 08 27 03 pra M).

♦

Master Choa mengamati karikatur itu, kok kurang tampan kalau dibandingkan aslinya ya? (94 08 27 06 pra M).

♦

Ucapan terimakasih juga diberikan kepada para asisten dari Filipina. (94 08 27 05 pra M).

♦

Memberikan contoh cara menelusuri aura dalam seseorang. (94 08 20 05 pra M).

♦

Seperti biasa terjadi, di sela-sela lokakarya ada saja orang yang ingin disembuhkan. (94 08 20 13 M).

♦

Para peserta lokakarya berfoto bersama Master di depan Bentara Budaya, tempat lokakarya diadakan. (94 08 27 10 pra M).

♦

Dalam lokakarya, Master Choa dibantu oleh seorang penterjemah. (94 08 20 14a psi M).

♦

Perioda 1994 I

♦

Dengan usaha yang cukup lama dan sungguh-sungguh, kami dapat mengumpulkan cukup banyak album kegiatan prana sejak perioda awal, yaitu tahun 1994, terimaksih kepada semua rekan yang telah meminjamkan beberapa foto dan albumnya kepada kami, juga pada sekretariat YPI yang telah membuka gudang lama untuk mencari album-album ini, sayang ternyata sudah ada yang mulai dimakan rayap. Karena banyaknya foto yang ada, hanya sebagian kecil saja (kurang dari 1%) yang kami tampilkan di sini.

Dalam foto-foto yang kami sajikan, sengaja banyak ditampilkan foto-foto Master Choa, terutama sejak awal tahun 1994, yang masih mengajar sendiri Penyembuhan Prana Tingkat Dasa, saat itu Master Choa nampak masih muda, lebih tampan dan lebih langsing. Selamat menikmati foto-foto yang kami sajikan.

♦

Master Choa ok Sui menyempatkan diri berjalan-jalan di Bali, Agustus 1994.

♦

Menyempatkan diri berjalan-jalan ke Bali, dengan mengenakan pakaian tradisional Bali. (94 08 23 01 M).

♦


Bersama Herminia berfoto di depan sebuah pura. (94 08 23 02 M).

♦

Wah, besar amat ularnya, tidak ngeri tuh menggendongnya di leher. (94 08 22 01).

♦

Malu dong, Hermie saja berani. (94 08 22 02).

♦

Malam harinya menyaksikan tarian Bali. (94 08 23 04).

♦

Berfoto bersama para penari Bali. (94 08 23 03 M).

♦

Master Choa sangat menikmati bertualang dengan melakukan rafting di Sungai Ayung, Bali, Agustus 1994.

♦

Keesokan harinya wisata dilakukan dengan rafting di sungai Ayung. (94 08 24 01 M, d74 master 94).

♦

Jangan heran, mobil itu punya orang kok. Danny cuma mejeng saja di dekatnya. (94 08 25 01).

♦

Lokakarya Penyembuhan Prana pertama yang diselenggarakan di Bentara Budaya dihadiri hampir 300 orang peserta. Lokakarya ini dipandu oleh Master Choa Kok Sui sendiri. Agustus 1994.

♦

Dalam Seminar Penyembuhan Prana yang pertama kali diadakan di Indonesia yang diikuti oleh lebih dari 300 peserta, Master Choa mendemonstrasikan bagaimana cara menyembuhkan luka baru dengan seketika. Dalam gambar nampak seorang dokter sedang menorehkan pisau ke lengan seorang ibu. Sebelumnya lengan sudah di anestesi dengan prana. Juni 1994.

♦

Torehan kecil di lengan yang sudah diusap darahnya. Kemudian luka baru ini segera dirawat dengan teknik Penyembuhan Prana. Juni 1994

♦



Setelah Master Choa melakukan perawatan Penyembuhan Prana kira-kira selama 15 menit, luka itu sudah mengering, seperti luka yang sudah berumur 1 minggu. Juni 1994.

♦

Salah seorang peserta memberikan kesaksian atas manjurnya Penyembuhan Prana. (94 08 00 01 M).

♦

Praktek melakukan penelusuran sedang dilakukan. (94 08 00 01 M).

♦

Mendiskusikan apa yang tadi dijelaskan di sela-sela rehat teh. (94 08 22 03 M).

♦

Ketika sedang melihat-lihat buku yang di pajang, Master Choa di daulat untuk berfoto bersama. (94 08 00 04 M).

♦

Nampak tiga tokoh agama, seorang suster Katolik, seorang pendeta Protestan dan seorang Bhikuni berfoto bersama disela-sela lokakarya Penyembuhan Prana. September 1994.

♦

Kemampuan Telekinetik


KEKUATAN DAN KEMAMPUAN TELEKINETIK

Oleh: Master Greg Castañares (MP20)

Kita tidak begitu menyadari bahwa sebenarnya setiap penyembuh prana, telah diajari dan dibimbing melakukan sebuah kemampuan yang sangat penting, yaitu kemampuan telekinetik. Orang awam memahaminya sebagai kekuatan menggerakkan sebuah benda tanpa menyentuhnya, hanya dengan menggunakan pemusatan pikiran dan kekuatan mentalnya, benda itu dapat dibuatnya bergerak.

Kekuatan terpendam yang sebenarnya sudah ada pada setiap orang ini, pada umumnya digunakan dalam ilmu bela diri atau oleh para remaja yang berada dalam keadaan emosi yang sedang bergolak.

Dalam seni bela diri, para praktisinya dilatih untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan ini berbarengan dengan gerakan tubuh atau jurus tertentu untuk mematahkan benda atau merubuhkan lawannya. Itu terwujud sebagai kekuatan yang luar-basa dan sulit dipercaya, seperti misalnya menghancurkan setumpuk kayu atau batu bata dengan tangan kosong atau dengan menggunakan bagian tubuh lainnya.

Kadang bahkan benda itu sudah pecah sebelum tubuh praktisinya menyentuhnya. Lawan dilumpuhkan tanpa menyentuh. Yang lain terpental atau ditarik mendekat hanya dengan lambaian tangan, dalam peristiwa tertentu, bahkan terbunuh, tanpa tersentuh, itulah sebabnya kita mempunyai legenda tentang tiupan yang mematikan, pedang tanpa bilah dan banyak lagi lainnya.

Fenomena semacam ini juga ditunjukkan oleh banyak Penyembuh Prana, namun dalam kasus ini, kita memanfaatkannya untuk melakukan penyembuhan, untuk meringankan rasa sakit dan penderitaan, dan untuk menolong umat manusia.

Menggerakkan energi di dalam maupun diluar tubuh adalah bagian dari telekinetik. itulah sebabnya mengapa para penyembuh pemula dan praktisi yang memanfaatkan energi yang diperoleh dari meditasi, menganggapnya sebagai upaya menggerakkan energi. ketika penyembuh dan praktisi meningkat dan berkembang karena terus berlatih, tanpa disadarinya, kekuatan telekinetik yang terpendam dalam dirinya mulai muncul, itulah sebabnya kita memiliki penyembuh yang dapat langsung menghilangkan dengan seketika rasa sakit yang luarbiasa, meluruskan tulang punggung, menyambung tulang patah, menghancurkan batu ginjal dan batu empedu, melenyapkan tumor dan sebagainya.

Dari keadaan cakranya, diyakini bahwa Tiger Woods, kampiun golf, dan Michael Jordan, seniman basket, mempunyai kekuatan telekinetik baik itu mereka sadari maupun tidak, itulah yang menyebabkan mereka menjadi piawai dibidangnya. Demikian juga Efren Reyes, juara dunia biliar, kontrol bolanya yang luar biasa melampaui perhitungan geometri, pukulan yang tidak mungkin dilakukan baginya menjadi mungkin. Kemudian ada Remmy Ong, juara bowling, satu-satunya peraih medali emas tiga kali berturut-turut dari Singapura, terkenal dengan konsentrasi mentalnya yang super. Dalam kehidupan sehari-hari, kekuatan telekinetik tercermin dari kekuatan hasrat/kehendak yang super. Ini dapat dilihat pada Uri Geller atau Nelya Mikhailova, yang mampu membengkokkan sendok hanya dengan kekuatan pikirannya saja. kekuatan semacam ini juga dimiliki oleh para pemimpin spiritual seperti Helena Petrovna Blavatsky, Grand Master dari Huasan, dan tentu saja Grand Master Choa Kok Sui.

Ada beberapa kemampuan lain yang berlandaskan pada kekuatan telekinetik ini: Misalnya pembedahan psikis, para penyembuh Carmona yang bisa meyatukan tulang, kelompok mistik dari Filipina dimana kebanyakan anggotanya terdiri dari anak-anak yang mempunyai kekuatan telekinetik. Atau contoh lain: Basil Valdez, seorang penyanyi yang dapat memadamkan lilin dari jauh tanpa meniupnya. Selain itu pada umumnya para yogi dan para ahli ilmu bela diri juga mempunyai kemampuan ini.

Kemudian siapa lagi? Tentu saja kita sebagi penyembuh prana! Kita memang istimewa, karena kita memang dilatih untuk mengembangkan kekuatan itu. Bukankah menggerakkan energi, mengaktifkan dan menghambat cakra juga merupakan bagian dari kekuatan telekinetik?

Dalam kesempatan ini akan kita bahas betapa beruntungnya kita menjadi penyembuh prana, betapa latihan penyembuhan dan latihan yoga membawa kita lebih dekat ke kekuatan ilahi kita yang terpendam, termasuk berkembangnya kemampuan telekinetik ini. Betapa gagasan, konsep dan latihan yang sederhana membuatnya terus berkembang. Sesungguhnya diam-diam tanpa kita sadari Master telah memberikan kepada kita hadiah yang sangat berharga ini sejak awal kita mengenal penyembuhan prana. Dalam penyembuhan prana kemampuan telekinetik itu antara lain meliputi tataran fisik, energi, emosi, mental, material dan spiritual. Seperti menghancurkan batu ginjal dan batu empedu, menghancurkan tumor, menarik dan menguatkan, seperti pada hernia dan banyak lagi, penyembuhan prana memang membuka pintu ke kemampuan telekinetik.

Pembahasan ini dipersembahkan kepada Grand Master Choa Kok Sui sebagai bakti penuh cinta dan rasa hormat atas pengetahuan dan pelatihan yang telah diberikannya selama ini.

Jangan lupa bahwa pemanfaatan kekuatan telekinetik akhirnya juga akan mempengaruhi dan meningkatkan kehidupan pribadi maupun kehidupan materi para praktisi penyembuhan prana.

----------

Sukacita


SUKACITA

Oleh : Efix

Dalam pertemuan yang diadakan oleh perkumpulan Alumni Lokakarya Penyembuhan dengan Tenaga Prana awal Maret yang lalu, secara menarik dibahas ‘rasa suka cita’ yang mempengaruhi kehidupan kita secara menyeluruh termasuk juga kemampuan penyembuhan kita.

Banyak orang bilang bahwa memelihara rasa kuatir, sedih, kecewa, marah, takut serta beberapa perasaan lain secara berlebihan dapat mengakibatkan penyakit. Bahkan penyakit tersebut terkadang susah terdeteksi dengan pengobatan kedokteran, karena penyebab penyakit bukan oleh virus dan sejenisnya melainkan oleh perasaan berlebihan yang berlarut-larut. Di kota asal saya di Jawa tengah, waktu kecil dulu saya sering mendengar para orang tua menasehati sesama tetangga: “Jangan sedih… nanti sakit TBC lho”. Waktu itu saya bingung apa hubungannya sedih dengan TBC, tapi ternyata menurut teori akupunktur, emosi atau perasaan yang berlebihan itu dapat mempengaruhi organ. Misalnya : Sedih mempengaruhi paru-paru; Marah mempengaruhi Hati; Takut mempengaruhi Ginjal, dan sebagainya. Oleh karena itu baru sekarang nyambung kenapa kalau orang sedih bisa TBC, sebabnya yaitu tadi, kalau orang memelihara perasaan sedih secara berlebihan, akibatnya akan memperlemah organ paru-paru, sehingga tentu saja mudah terserang penyakit yang ada hubungannya dengan paru-paru, antara lain TBC.

Oleh karena itu jangan sedih melainkan bergembiralah, namun tentu saja dalam batasan yang wajar. Maksudnya bila kita teringat akan suatu hal yang lucu boleh saja tersenyum, namun kalau ingatnya pas di tempat umum sedang kita hanya sendirian, ya… untuk sementara ditahanlah. Kalau mendadak ngikik sendiri kan bikin bingung orang sekitar kita.

Bulan Maret yang lalu, di tempat Ibu Oemi Hermanto, salah satu alumni penyembuh prana yang rumahnya di bilangan Lebak Bulus, Jakarta. Dalam pertemuan berkala Alumni Penyembuh Prana diadakan ceramah tentang Kegembiraan Untuk Penyembuhan (Sukacita) atau bahasa Inggrisnya “Joy”, yang dikemas dan diberikan secara amat menarik oleh seorang trainer prana.

Dalam mengupas kegembiraan atau keceriaan tersebut kita diajak kembali ke masa kanak-kanak, sebab sifat seorang anak antara lain ialah: Gembira, kagum serta rasa syukur. Coba kita putar mundur masa kanak-kanak kita, bila ada kata rencana piknik, maka beberapa hari sebelumnya dada kita sudah penuh dengan perasaan gembira. Kita tidak memperdulikan apakah busnya pakai AC, konsumsinya enak atau tidak, cuaca baik atau mendung bahkan hujan, tujuannya menarik atau tidak……. semua itu tidak terpikirkan. Yang terpikir hanya satu yaitu PIKNIK! Apapun yang akan terjadi mereka terima dengan penuh syukur dan sukacita. Coba pikir, waktu kita kecil kalau hujan bukannya berteduh, malahan main hujan-hujanan kan?

Sebenarnya kegembiraan atau keceriaan itu ada di diri semua orang, sebab hal ini sudah merupakan perlengkapan standard tiap orang, atau dengan kata lain sudah ‘build in” dalam kalbu masing-masing, walau dengan pengalaman yang berbeda. Lagu anak maupun kembali ke masa kanak-kanak diatas hanya merupakan pelatuk (trigger) untuk membantu mengaktifkan keceriaan yang terdapat pada tiap orang tersebut.

Nah dalam ceramah Kegembiraan Untuk Penyembuhan ini untuk membantu menghadirkan perasaan sukacita yang ada di dalam diri kita maka kita diminta untuk membayangkan masa kecil kita. Yah… lebih kurang umur 7 tahun. Kita diajak menggali kembali kegembiraan-kegembiraan yang pernah kita nikmati mengalir secara alami. Untuk membantu menghadirkan kegembiraan tersebut diputar lagu anak-anak. Selain itu dibantu pula dengan arahan yang lain misalnya:
  • Masa ulangan umum telah usai dan Ibu/Bapak guru akan mengadakan Study Tour ke beberapa kota dengan menyewa bus.
  • Ke pantai, guling-gulingan bermain pasir tidak peduli apakah pakaian kita akan menjadi kotor, melihat kapal api yg lewat di lautan
  • Ke alun-alun melihat sirkus/sekaten/pasar malam, menonton komidi putar, menonton motor berputar di tong setan.
  • Ke pusat kota melihat pawai dan mobil hias, sambil jajan.
  • Liburan beserta keluarga ke tempat kakek/nenek di luar kota dengan suasana pedesaan seperti bermain-main di pematang sawah dan malam hari berkumpul di halaman memandang bintang dilangit dan bulan yang bersinar terang.
Ditambahkan lagi bahwa kegembiraan dapat dipakai sebagai sarana pembantu penyembuhan prana. Karena kegembiraan selain memperbesar tubuh energi, merangsang sistim hormonal dan kelenjar getah bening juga memurnikan sistim emosi kita. Pada saat bergembira kita tidak mungkin mempunyai niat untuk bergosip ataupun mempunyai perasaan benci, iri, dengki, cemas, takut serta perasaan negatif yang lain.

Dalam keadaan sekarang ini kita dapat juga meningkatkan kegembiraan dengan berbagai jalan, antara lain:
  • Melayani sesama (sacrificial services)
  • Meningkatkan iman, kepercayaan dan ketulusan.
  • Menjaga tubuh yang sehat serta hati yang penuh damai.
Sesudah keceriaan timbul, dengan penuh cinta kasih, pusatkan melalui cakra jantung, biarkan mengalir terus menerus laksana mata air, bagikanlah kepada sesama, bisa juga dengan membantu mereka menemukan kegembiraan, membantu mereka bersyukur. Bila Anda melakukan hal ini pada pasien Anda, niscaya pasien anda tersebut akan lebih mudah disembuhkan.

Coba perhatikan, orang bisa bahagia meski tidak didampingi keceriaan, namun untuk menjadi ceria biasanya harus dilandasi dengan bahagia dulu.

Anda dapat lebih mendalami apa yang diuraikan di halaman ini dengan membaca buku JOY FOR HEALING karangan Torkom Saraydarian.

----------

Energi Psikik Traumatis


Energi Psikik Traumatis dan kesatuan pikiran

Dikutip dari buku Psikoterapi Prana hal 4. (MP16)

Dalam ilmu esoterik, energi mental dan emosional yang dihasilkan oleh pikiran dan perasaan mempunyai tingkat kesadaran tertentu. Pengalaman, pikiran dan perasaan Anda menghasilkan makhluk psikik yang disebut dengan bentuk pikiran atau kesatuan pikiran. Dengan kata lain, pikiran dan perasaan Anda itu nyata dan dapat mempengaruhi Anda ataupun orang lain. Bila seseorang pernah mengalami perasaan yang menyakitkan, energi psikik traumatis yang dihasilkan tertanam dalam beberapa cakra atau pusat energi yang lama kelamaan muncul sebagai stress atau fobia. Energi traumatik ini mempunyai kesadaran tertentu dan disebut dengan kesatuan pikiran traumatik (traumatic thought entities). Fobia tidak lain adalah energi ketakutan traumatik atau kesatuan pikiran takut yang tersimpan dalam cakra tertentu. Sekali kesatuan pikiran fobia atau energi rasa takut ini dihilangkan sebagian atau seluruhnya dari cakra tersebut oleh seorang penyembuh prana, pasien akan merasakan adanya kemajuan kesehatan yang nyata.

Pengalaman yang menyakitkan atau traumatik dapat menimbulkan rasa takut, rendahnya harga diri, rasa tidak aman, perasaan gagal dan ketidak pedulian. Lama kelamaan pikiran dan perasaan yang negatif akan menimbulkan kesatuan pikiran negatif disertai efek menghambat yang kuat yang muncul sebagai depresi berat.

----------