Thursday, September 25, 2008

Pygmalion


PYGMALION

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni pahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kemahirannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”

  • Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
  • Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan.

Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,

  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Itulah sebabnya dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.

  • Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif sepertiitu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk.
  • Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,”atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia.
  • Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”……..

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.

Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai. Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only………… how nice!!!!

  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betu menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

----------

Mawar Dalam Diri


MAWAR DALAM DIRI

Kisah cinta Penuh Inspirasi

Ada seseorang yang menanam pohon mawar dan dengan tekun menyiraminya, sebelum sebelum berbunga, dia mengamatinya dengan teliti. Dilihatnya kuncup yang sebentar lagi akan mekar, tetapi dilihatnya juga ada duri di batangnya, dia berpikir, “bagaimana mungkin bunga secantik ini muncul dari pohon yang dipenuhi dengan begitu banyak duri yang tajam? Sedih karena pemikiran ini, dia menolak menyirami pohon mawar itu, dan sebelum dia berbunga….. diapun mati.

Demikian pula dengan kebanyakan orang. Di dalam setiap Jiwa selalu ada bunga mawar. Sifat-sifat yang menyerupai sifat Tuhan ditanamkan dalam diri kita ketika kita dilahirkan, mawar itu muncul, ditengah duri kesalahan kita. Banyak dari kita yang melihat ke dalam dirinya sendiri dan hanya melihat duri-duri, cacat kita.

Kita putus asa, mengira bahwa tidak ada sesuatu yang baik yang bisa muncul dari dalam diri kita. Kita tidak mau menyirami kebaikan yang ada dalam diri kita, dan akhirnya mereka mati. Kita tidak pernah menyadari potensi kita sendiri.

Banyak orang yang tidak melihat mawar dalam dirinya, harus ada orang lain yang menunjukkannya. Salah satu hadiah terbesar yang dapat dimiliki seseorang adalah mampu melihat melalui duri-duri orang lain, dan menemukan mawar dalam diri mereka.

Ini merupakan karakteristik cinta….. memandang seseorang, memahami kesalahan mereka dan menerima orang itu dalam kehidupan Anda….. sementara itu kita juga menghargai kemuliaan dalam Jiwa mereka. Bantulah orang lain menyadari bahwa mereka dapat mengatasi kesalahan mereka. Kalau kita tunjukkan mawar di dalam diri mereka masing-masing, mereka akan menaklukkan duri-duri mereka. Hanya dengan demikian mereka dapat terus berbunga sepanjang waktu.

----------

Rajawali di Tengah Badai


RAJAWALI DI TENGAH BADAI

Tahukah Anda bahwa rajawali tahu kapan badai muncul jauh sebelum peristiwa itu terjadi? Rajawali akan terbang sampai ketinggian tertentu dan menunggu angin itu datang. ketika badai muncul, dia mengembangkan sayapnya sehingga angin akan mengangkatnya ke atas badai. ketika badai mengamuk di bawahnya, rajawali membubung tinggi di atasnya. Rajawali tidak melarikan diri dari badai. Dia memanfaatkan badai untuk mengangkatnya lebih tinggi. Dia mengendarai angin yang menimbulkan badai.

Ketika badai kehidupan menerpa kita -dan kita semua pasti mengalaminya- kita bisa naik di atasnya dengan cara menyetel alam pikiran dan keyakinan kita kepada Tuhan. badai tidak perlu menaklukkan kita. Kita bisa membiarkan kuasa Tuhan mengangkat kita ke atasnya. Tuhan memberi kita kemampuan mengendarai angin yang mengiringi badai yang menyebabkan sakit, tragedi, kegagalan dan kekecewaan dalam kehidupan kita. Kita bisa membubung tinggi diatas badai.

Ingatlah selalu, bukan beban yang menyebabkan kita jatuh, tetapi cara kita menangani beban itulah yang menyebabkannya.

----------

Pasir dan Batu


PASIR DAN BATU

Dikisahkan ada dua orang bersahabat berjalan melintasi gurun. Dalam perjalanan mereka memperdebatkan sesuatu, dan salah seorang menampar yang lain. Orang yang ditampar sakit hati, tetapi tanpa berkata sepatah katapun dia menulis di atas pasir, “HARI INI SAHABATKU MENAMPARKU.”

Mereka melanjutkan berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis, mereka memutuskan untuk mandi di situ. Salah seorang, yang beberapa hari yang lalu ditampar, terjebak dalam lumpur dan hampir tenggelam, tetapi temannya menyelamatkannya. Setelah dia pulih dari ketegangan, dia menulis dengan memahat batu, “HARI INI SAHABATKU MENYELAMATKAN HIDUPKU.”

Teman yang telah menampar dan menyelamatkannya bertanya, “Setelah aku menyakitimu, kamu menulis di atas pasir dan sekarang kamu memahatnya di atas batu, mengapa?”

Temannya menjawab, “Ketika seseorang menyakiti kita, sebaiknya kita menulisnya di pasir sehingga angin maaf dapat menghapusnya. Tetapi, kalau seseorang berbuat kebaikan kepada kita, kita harus mengukirnya di batu di mana angin tidak akan dapat menghapusnya.”

----------

Dua Ekor Katak

DUA EKOR KATAK

Sekelompok katak melakukan perjalanan melintasi hutan, dan dua di antaranya terperosok ke lubang yang sangat dalam. Ketika katak lainnya melihat betapa dalamnya lubang itu, mereka berseru kepada kedua katak itu bahwa mereka akan segera mati. Kedua katak itu mengabaikan pendapat mereka dan terus mencoba melopat keluar dengan sekuat tenaga.

Katak yang lain terus mencoba menghentikan mereka, karena berpendapat tak ada gunanya dan mereka akan segera mati. Akhirnya salah seekor katak terpengaruh oleh apa yang dikatakan katak-katak yang lain itu dan menyerah. Dia terjatuh dan mati.

Katak yang seekor lagi terus melompat sekuat tenaga. Sekali lagi kelompok katak di atasnya berteriak agar dia berhenti mencoba, percuma, hentikan saja usahanya dan mati saja. Tetapi dia terus melompat, bahkan lebih kuat dan akhirnya berhasil, katak-katak yang lain berkata, “Apa kamu tidak mendengar kami?” Katak itu menjelaskan bahwa dia tuli, dia pikir mereka terus memberikan semangat.

Kisah ini memberi dua pelajaran:

  1. Ada kekuatan kehidupan dan kematian di lidah Anda. Perkataan yang mendukung mereka yang sedang patah semangat bisa menyemangati dan membantu mereka menjalani hidup.
  2. Kata-kata yang destruktif kepada seseorang yang sedang patah semangat bisa menjatuhkannya. Hati-hatilah dengan apa yang Anda ucapkan.

Hati-hatilah dengan apa yang Anda katakan. Bicaralah dengan santun kepada orang yang Anda jumpai. Kekuatan kata-kata….. kadang-kadang sulit dimengerti bahwa kata-kata yang memberikan semangat bisa berjalan demikian jauh. Setiap orang bisa mengucapkan kata-kata yang cenderung mendorong semangat seseorang agar tetap bertahan dalam menghadapi kesulitan. Terutama mereka yang secara khusus meluangkan waktu untuk menyemangati orang lain.

----------

Hambatan di Jalan Kita


HAMBATAN DI JALAN KITA

Pada zaman dahulu, seorang raja menaruh sebuah batu besar di tengah jalan. Kemudian dia bersembunyi untuk melihat adakah orang yang akan menyingkirkan batu besar itu. Beberapa saudagar yang sangat kaya serta pegawai istana datang dan begitu saja berjalan terus mengitarinya.

Banyak orang yang bersungut-sungut karena membiarkan jalan terhalang, tetapi tidak satupun yang melakukan sesuatu untuk menyingkirkan batu itu dari tengah jalan. Kemudian lewat seorang petani memikul setumpuk sayuran. Petani itu meletakkan bebannya dan mencoba mendorong batu itu ke tepi jalan. Setelah berusaha keras sekuat tenaga mendorong dan menggulingkan batu itu, akhirnya dia berhasil. Ketika petani itu mengangkat kembali sayurannya, dilihatnya ada sebuah dompet di tempat batu tadi teronggok. Dompet itu berisi banyak sekali kepingan uang emas serta sebuah catatan dari raja yang menyatakan bahwa emas itu diberikan kepada orang yang menyingkirkan batu yang menghalangi jalan tadi. Petani itu memperoleh pengalaman yang tidak dapat dimahami kebanyakan orang.

Setiap hambatan menyediakan kesempatan untuk meningkatkan keadaan seseorang….

----------

Pohon Kalpataru

POHON KALPATARU

Oleh: Sri Chinmoy

Seorang pemuda duduk berteduh di bawah sebuah pohon menghindari terik matahari di musim kemarau Untungnya atau sayangnya, pohon tempatnya berteduh adalah pohon Kalpataru, pohon yang akan mewujudkan apapun yang diinginkan, tetapi dia tidak menyadarinya.

Beberapa saat kemudian panas semakin menyengat dan dia berkata, “Alangkah nikmatnya kalau ada seseorang datang dan mengipasi aku!” Langsung saja seorang anak laki-laki datang dan mulai mengipasinya.

Pada awalnya dia sangat terkejut. Kemudian dia mulai berpikir bahwa apapun yang diinginkannya akan dikabulkan. Maka dia berkata, “Ini anak laki-laki. Aku tidak menginginkannya. Biar dia digantikan oleh seorang gadis yang cantik.” Segera saja muncul seorang gadis molek yang segera mengipasinya.

Tak lama kemudian dia berkata, “Sekarang aku ingin ada makanan lezat di sini, aku lapar.” Gadis itu pergi sebentar dan kembali membawa makanan. Dengan lahap dia memakannya, lalu berkata, “Oh, alangkah indahnya tempat ini. Tapi kenapa tidak ada seekor binatangpun di sini? Aku berada di hutan, tapi kenapa tidak ada binatang? Hutan seharusnya dihuni oleh binatang. Aku berharap paling tidak bisa melihat seekor harimau di hadapanku!” Seketika muncul seekor harimau, yang langsung memangsanya!

George Bernard Shaw pernah berkata, “Ada dua tragedi dalam hidup ini. Pertama, tidak memperoleh apa yang diinginkan, yang kedua, memperoleh apa yang diinginkan, seperti yang didapat pemuda ini!

----------

Kejujuran

KEJUJURAN

Disadur dari buku “The Golden Rules, the ten ethical values parents need to teach their children” karya Wayne Dosick. ( MP 27).

Sejak belia, kepada seorang anak sebaiknya sudah diperkenalkan, ditanamkan dan dibiasakan berlaku jujur dan adil, kalau sejak dini ini dilakukan oleh semua pihak, dapat dipastikan bahwa negara kita saat ini sudah sejahtera. Artikel berikut ini sangat baik menggambarkan bagaimana cara menanamkan kejujuran dan perilaku adil pada anak-anak kita, atau bahkan pada diri kita sendiri.

Suatu ketika seorang hakim tua diminta untuk menyelesaikan persengketaan di antara dua orang bersaudara mengenai pembagian tanah yang luas yang diwariskan ayah mereka. Hakim itu kemudian memutuskan: “Biarlah salah satu dari mereka berdua membagi tanah warisan itu menjadi dua, dan biarkan saudaranya memilih terlebih dahulu.”

Dalam skala yang jauh lebih kecil, ibu saya juga menggunakan sistem yang sama untuk menengahi pertengkaran antara saya dengan kakak saya ketika kami masih kecil.

Ibu menamakannya “aturan membagi kue.” Ketika kami bertengkar mengenai potongan kue yang kami terima, ibu memutuskan: salah satu dari kami yang membagi kue itu menjadi dua dan yang lain memilih terlebih dahulu potongan mana yang dia inginkannya.

Pembagian yang adil

Pada saat mereka berumur dua atau tiga tahun, anak-anak akan bereaksi bila mereka merasa bahwa wilayah, hak, dan rasa keadilan mereka terusik.

Di rumah, di tempat bermain, atau di sekolah, sering kali anak-anak terdengar berteriak,”Tidak adil!” Secara alami mereka mempertahankan hak mereka masing-masing, anak-anak dapat belajar menyampaikan nilai-nilai moral ini kepada orang lain.

Anda bisa mengajarkan kepada anak-anak bahwa orang yang bermartabat melakukan apa yang benar, jujur dan adil.

Walaupun tugas para orang tua modern tidak semudah kedengarannya, atau tidak sesederhana seperti dulu lagi.

Dalam masyarakat yang mempunyai berbagai definisi yang berbeda, sedemikian banyak kepentingan yang saling bersaing, begitu banyak tuntutan yang saling bertentangan, bahkan ketika pengadilan dipenuhi dengan perdebatan yang ingin memaksakan kebenaran dan keadilan versi masing-masing, bagaimana Anda dan anak-anak Anda tahu mana yang patut, mana yang adil, mana yang benar?

Untuk membantu mereka, dan juga Anda dalam memutuskan, ceritakanlah kisah berikut:

Seorang pemuda mengetuk pintu rumah seorang ibu, menawarkan apakah dia mau membeli rambutan lezat yang baru dipetik dari kebun keluarganya.

“Ya,” kata ibu tadi. “Aku sangat suka membeli rambutanmu yang segar itu. Biarkan aku membawa keranjang rambutanmu ke dalam, aku akan mengambil dan menimbang sebanyak satu kilo.”

Anak muda itu berdiri di beranda dan mulai bermain dengan anjing ibu tadi. “Silahkan masuk dan menyaksikan apakah aku menimbang rambutan ini dengan benar.” kata ibu itu. “Bangaimana kamu tahu aku tidak akan mencurangimu dan mengambil lebih dari sekilo?”

Anak muda itu menjawab, “Saya tidak khawatir bu, karena kalau itu ibu lakukan, ibu sendiri yang akan rugi.”

“Rugi?” tanya ibu tadi “Bagaimana mungkin? Apa maksud perkataanmu?”

Lalu anak muda itu berujar, “Kenapa? Kalau ibu mengambil rambutan itu lebih dari sekilo seperti yang harus ibu bayar kepada saya, saya hanya kehilangan beberapa buah rambutan saja. Tetapi ibu akan menjadikan diri ibu sendiri sebagai seorang penipu dan pencuri.”

Seperti yang dikatakan pepatah Rusia, “Dengan kejujuran, Anda dapat melakukan perjalanan keliling dunia. Dengan ketidak jujuran, Anda bahkan tidak dapat melewati perbatasan.”
Kisah yang lain

Di sebuah kota kecil, ada seorang hakim, di mana hanya ada seorang hakim lain lagi selain dirinya, yang melayani seluruh kegiatan pengadilan di situ, di mana-mana dia sangat dihormati karena keputusannya selalu adil dan tidak pernah memihak.

Suatu hari, isteri hakim itu naik pitam karena dia yakin bahwa pelayannya, seorang gadis yatim piatu yang miskin, telah mencuri barang berharga dari rumahnya.

Dengan ketakutan, tetapi dengan gigih pelayan itu menyangkal tuduhan majikannya itu, tetapi isteri hakim itu malah berkata, “Biar pengadilan saja yang memutuskan perkara ini nanti.”

Ketika hakim itu mendengar keputusan isterinya, dengan segera dia mengenakan pakaiannya yang terbaik.

“Mengapa kamu mengenakan pakaianmu yang bagus?” tanya isterinya. “Kamu tahu bahwa tidak pantas kalau kamu menemani aku ke pengadilan. Aku yakin aku dapat membela perkaraku sendiri.”

“Aku yakin kamu bisa,” Jawab hakim itu. “Tapi siapa yang akan membela kasus pelayanmu, yatim piatu miskin ini? Aku kepengadilan untuk meyakinkan bahwa keadilan penuh yang akan diterimanya”

Tidak selalu mudah berlaku benar atau berlaku adil, untuk membela kebenaran, terutama bila terlalu banyak yang harus dipertaruhkan, terutama ketika teman dan rekan sejawat, atau bahkan anak-anak Anda, akan tersinggung atau sakit hati karenanya. Tetapi berlaku adil dan berperilaku jujur adalah tanda dari orang yang bermartabat. Berlaku jujur dan adil berarti lebih dari sekedar melakukan yang benar dan adil. Memperjuangkan keadilan berarti berupaya meluruskan yang salah, melenyapkan pelecehan dan mengupayakan peningkatan martabat manusia di dunia yang mengasyikkan tetapi tidak sempurna ini.

----------

Wednesday, September 24, 2008

Benih Dari Kaisar


BENIH DARI KAISAR

Suatu ketika di Timur Jauh ada seorang Kaisar yang sudah mulai tua dan menyadari bahwa saatnya telah tiba untuk mencari penggantinya. Bukannya memilih salah satu pembantunya atau salah seorang dari anak-anaknya, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain.

Suatu hari dikumpulkannya semua anak muda di seluruh negeri. Dia berkata, “Waktunya telah tiba bagiku untuk turun tahta dan memilih kaisar penggantiku. Aku telah memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian.” Semuanya terkejut!!

Tapi Kaisar terus melanjutkan. “Hari ini aku akan memberi kalian masing-masing sebutir benih. Ya sebutir benih saja. Benih ini sangat istimewa. Bawa pulang dan segeralah tanam benih ini, siramilah dan kembalilah kemari setahun lagi, tentu saja dengan membawa serta tanaman yang tumbuh dari benihmu masing-masing. Kemudian akan kunilai tanaman yang kau bawa kemari, pemenangnya akan kupilih menjadi kaisar menggantikan aku!”

Ada seorang anak laki-laki bernama Ling yang waktu itu juga hadir, seperti yang lain, dia juga menerima sebutir benih. Dia pulang dan dengan bersemangat menceritakan seluruh kisah kepada ibunya. Ibunya membantu mencarikan sebuah pot, mengisinya dengan tanah yang subur, kemudian mereka menanam benih itu dan setiap hari menyiramnya dengan hati-hati, setiap hari dia terus mengamati apakah benihnya sudah mulai tumbuh.

Setelah dua minggu, beberapa pemuda mulai membanggakan benih mereka masing-masing serta tanaman yang mulai tumbuh. Ling terus berjalan pulang dan memeriksa benihnya, tapi tidak ada yang tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu, tak ada sesuatupun yang tumbuh.

Sementara itu anak yang lain mulai ramai membicarakan tanaman mereka, namun Ling tidak punya tanaman, dia merasa gagal. Enam minggu berlalu, di pot Ling tetap tidak tumbuh apa-apa. Dia tahu dia telah membunuh benihnya. Semua orang punya pohon dan tanaman yang tinggi, tapi dia tidak memiliki apapun. Ling tidak mengatakan apa-apa kepada teman-temannya, namun, dita tetap berharap benihnya akan tumbuh.

Akhirnya setahun telah berlalu dan semua pemuda di kerajaan itu membawa tanaman mereka agar diperiksa Kaisar. Ling memberitahu ibunya bahwa dia tidak mau membawa pot kosong. tetapi ibunya mendorongnya agar Ling tetap pergi dengan membawa potnya, dan berkata jujur atas apa yang sebenarnya terjadi. Perut Ling terasa mual, tetapi dia tahu bahwa ibunya benar. Dia membawa pot kosongnya ke istana.

Ketika Ling sampai, dia sangat takjub akan berbagai tanaman yang ditumbuhkan oleh pemuda yang lain. Tanaman mereka begitu indah, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ling meletakkan pot kosongnya di lantai, banyak pemuda lain mentertawakannya. Ada juga yang merasa ikut menyesal dan berkata, “Paling tidak kamu sudah mencoba.”

Ketika kaisar tiba, dia meninjau seluruh ruangan sambil menyapa para pemuda itu. Ling berusaha menyembunyikan diri di belakang, “Wah, alangkah indah tanaman-tanaman, pohon dan bunga yang kalian tumbuhkan,” kata kaisar. “Hari ini, salah seorang dari kalian akan ditunjuk sebagai kaisar baru.”
Tiba-tiba kaisar melihat Ling di belakang ruangan dengan pot kosongnya. Kaisar memberi perintah agar para pengawal membawanya ke depan, Ling sangat ketakutan, “Kaisar tahu kalau aku gagal, mungkin saja dia akan membunuhku!”

Ketika Ling sampai di depan, kaisar bertanya siapa namanya. “Nama hamba Ling tuanku.” Semua pemuda yang lain mentertawakan dan mengolok-oloknya. Kaisar memerintahkan agar semua diam. Dia menatap Ling, kemudian mengumumkan, “Pandanglah kaisar baru kalian! Namanya adalah Ling!”
Ling tidak percaya apa yang baru saja terjadi. BahBukankah Ling tidak berhasil menumbuhkan benihnya? Bagaimana mungkin dia ditunjuk menjadi kaisar baru?

Kaisar berkata, “Setahun yang lalu, aku memberi semua orang yang hadir di sini sebutir benih. Aku perintahkan kalian membawa pulang benih itu, menanamnya, menyiramnya, dan membawanya kembali kemari hari ini. Tapi benih yang kuberikan, sebelumnya telah direbus dan tidak mungkin bisa tumbuh. Kamu semua, kecuali Ling, membawa kemari pohon, tanaman dan bunga. Ketika kalian dapati benih kalian tidak tumbuh, kalian menanam benih lain sebagai pengganti benih yang kuberikan. Ling adalah satu-satunya orang yang dengan berani dan jujur membawa kemari pot dengan benih yang telah kuberikan di dalamnya. Karenanya, dialah orang yang akan menjadi kaisar baru!”

Tak peduli apapun yang Anda lakukan, membangun bangsa atau membuat sepatu, mereka yang berlaku jujur, di mata Tuhan dia adalah seorang raja ~ John Parnell

----------

Cincin Emas

CINCIN EMAS

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya :

“Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman sakarang berpakaian rapi amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak hal lain.”

Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata:

“Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga sekeping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu; “Satu keping emas. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

“Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga sekeping emas. Mereka hanya menawarnya seharga sekeping perak saja.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga sekeping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor; “Guru, tak seorangpun berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Sambil tetap tersenyum arif, Zun-Nun berkata, “Sekarang pergilah ke toko emas di ujung jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana mereka memberi penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Kemudian dia melapor; “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini lebih dari seribu kali dibanding dengan yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar pelan; “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.

Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk bisa melihatnya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan kita lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”

----------

Keberanian


KEBERANIAN

(MP 12).

Bertahun-tahun yang lampau, ketika aku bekerja sebagai sukarelawan di sebuah rumah sakit, aku mengenal seorang gadis kecil bernama Lisa yang mengidap penyakit langka yang sangat parah. Tampaknya satu-satunya peluangnya untuk sembuh adalah dengan melakukan transfusi darah dari adik laki-lakinya yang baru berusia lima tahun, yang secara menakjubkan tidak terkena serangan penyakit itu karena tubuhnya telah membangun anti bodi yang dibutuhkan untuk melawannya. Dokter yang menanganinya menjelaskan situasi itu kepada adik laki-laki gadis itu, dan bertanya apakah dia bersedia memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Aku melihat dia bimbang untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas sangat dalam dan berkata, ‘Ya, aku akan melakukannya untuk menyelamatkan Lisa.’

“Ketika transfusi darah berlangsung, dia berbaring di ranjang di samping kakak perempuannya dan tersenyum, demikian juga kami, menyaksikan rona merah kembali muncul di pipi Lisa. Kemudian wajah anak laki-laki itu memucat dan senyumnya memudar. Dia memandang dokter di sampingnya dan bertanya lirih dengan suara gemetar, ‘Apa saya akan segera mati?’

“Karena masih kecil, anak laki-laki itu telah salah memahami penjelasan dokter tadi, dia pikir dia harus memberikan semua darahnya kepada kakak perempuannya.”

Bagaimana dengan Anda, adakah kesediaan Anda untuk sedikit berkurban bagi “saudara-saudara” Anda? Untuk memberikan 200 sampai 300 cc darah Anda? Ketahuilah bahwa dengan demikian, Anda telah menolong jiwa seseorang? Apakah Anda mempunyai cukup keberanian? Kalau tidak bacalah ulang kisah di atas untuk membangkitkan inspirasi Anda, teladanilah anak kali-laki, yang punya keberanian untuk mengurbankan nyawanya bagi kakaknya.

----------

Kejujuran II

KEJUJURAN

Dikutip dari buku Golden Rules, karya Wayne Dosick

Ketika Bobby berumur 5 tahun, dia diajak ayahnya pergi berkeliling naik mobil di pinggiran kota. Di sebuah perempatan, ayah Bobby terus saja melaju dan tidak mempedulikan lampu lalulintas yang sedang merah.
Bobby berkata: “Yah, di sekolah guruku mengajarkan bahwa kita harus berhenti di setiap lampu merah.”
Ayahnya menjawab, “Oh, jangan khawatir nak. Di jalan ini tidak ada kendaraan lain yang lewat, selain itu, di sekitar sini tidak ada polisi. Tidak seorangpun yang melihat kita melanggar rambu lalulintas.”

Ketika Bobby berumur 12 tahun, ibunya mengajaknya menonton film. Ketika mereka dalam perjalanan ke gedung bioskop, ibunya berkata: “Bobby, kalau nanti penjaga pintu bertanya berapa umurmu, bilang saja kalau kamu berumur sebelas tahun, akan aku belikan kamu tiket setengah harga untuk anak-anak.”

Ketika Bobby berumur enambelas tahun, dia mendengar ayahnya bicara di telpon dengan seorang akuntan, “Benar Charlie,” kata ayah Bobby, “Lupakan kalau aku pernah mengatakan padamu tentang pendapatan ekstra yang aku peroleh dari jual beli saham kemarin. Itu tidak tercatat di mana-mana, jadi kita tidak perlu membayar pajak lebih besar.”

Ketika Bobby berumur sembilan belas, dia masuk universitas. Dan enam bulan kemudian, orang tuanya menerima surat dari universitas:

Bapak dan Ibu Smith yang terhormat,
Dengan menyesal kami beritahukan kepada Anda bahwa anak Anda Bobby terpaksa kami keluarkan dari universitas karena dia telah melanggar peraturan, dia tertangkap basah menyontek dalam ujian semester.

Ibu Bobby menjerit, “Bobby menyontek dalam ujian? Bagaimana mungkin? Kami membesarkannya dalam rumah yang tenteram. Darimana dia belajar tidak jujur seperti itu?” Dan ayah Bobby menghela napas panjang, sambil menggelengkan kepala, dan dengan sedih bertanya: “Bagaimana mungkin Bobby tega melakukan hal seperti ini kepada kita?”
Orang yang punya etika berkata dengan sejujurnya, karena perkataannya berarti tanggung jawab, dan tanggungjawab adalah kehormatan.

Ajarilah anak-anak Anda berkata jujur sambil Anda sendiri menjaga ucapan Anda. Ketika anak-anak Anda belajar mengatakan kebenaran, maka mereka akan terhindar dari dipermalukan oleh kebohongan mereka sendiri. Ketika anak-anak Anda belajar berkata jujur, maka mereka tidak akan terperangkap oleh dustanya sendiri.

----------

Kata-kata Kasar


KATA_KATA KASAR

Kiriman : Widimulyani

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika dia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana Kita memperlakukan orang-orang yang Kita kasihi, tua dan muda.

Pada Hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan erbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”

“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan dibuatnya bagimu, Dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.” Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon. “

“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. “Aku tahu Ibu akan menyukainya , terutama yang berwarna biru.”

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi. “Anak manisku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Akupun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Apakah anda sadari bahwa jika Kita mati besok, perusahaan dimana Kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti Kita dalam hitungan Hari? Tetapi keluarga yang Kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari Kita renungkan, Kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan Kita ketimbang keluarga Kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY. FAMILY = (F)ather (A)ND (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou. Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan. Saya telah melakukannya.

----------

Pay It Forward


PAY IT FORWARD

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi.
Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.

Percobaanpun dimulai :

Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.

Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”

Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD,MOM”

Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.

Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”

Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”

Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.

Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.

Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.

Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan didalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”

----------

Sup Ajaib


SUP AJAIB

(MP 7).

Seorang wanita di salah satu desa terkejut ketika ia melihat seorang asing berpakaian rapi di depan pintu rumahnya, minta sesuatu untuk dimakan. Wanita itu berkata, “Maaf, sekarang saya tidak mempunyai sesuatu pun di rumah.”

“Tidak apa-apa,” kata orang asing itu bersahabat. “Saya mempunyai sebutir batu-sup di tas saya; kalau saya kau ijinkan untuk memasukkannya ke dalam panci dengan air mendidih, saya akan membuat sup yang paling lezat di seluruh dunia. Saya minta panci yang besar.”

Wanita itu ingin tahu. Ia meletakkan panci diatas api dan menceritakan rahasia batu-sup itu kepada seorang tetangga. Ketika air itu hampir mendidih, seluruh tetangga sudah berkumpul di rumahnya untuk melihat orang asing dan batu-supnya. Orang asing itu memasukkan batu ke dalam air dan mencicipinya sesendok dengan rasa nyaman dan berseru, “Ah, enak sekali! tetapi masih kurang kentangnya.”

“Saya punya kentang di rumah,” kata seorang wanita lain. Dalam beberapa menit ia sudah kembali membawa kentang yang sudah dikupas dan diiris yang kemudian dimasukkan ke dalam panci. Kemudian orang asing itu mencicipi lagi. “Istimewa!” katanya. Namun dengan bisik-bisik ia menambahkan, “Seandainya kita mempunyai daging, masakan ini akan sangat lezat.”

Seorang ibu rumah tangga yang lain lari pulang dan membawa daging yang kemudian diterima oleh orang asing itu dengan penuh terima kasih dan dimasukkan ke dalam panci. Ketika ia mencicipi lagi, matanya berkedip-kedip, wajahnya menengadah dan berkata, “Ah, enaknya! Seandainya ada sayurnya, masakan ini sempurna, sungguh sempurna.”

Salah seorang tetangga cepat lari ke rumah dan kembali dengan keranjang penuh wortel dan bawang. Sesudah sayur-sayuran ini dimasukkan ke dalam panci dan orang asing itu mencicipi sekali lagi, ia berkata dengan nada memerintah, “Garam dan bumbu.” “Ini,” kata seorang ibu rumah tangga. Lalu datang perintah yang lain, “Piring untuk semua orang.” Yang hadir di situ lari ke rumah masing-masing untuk mencari piring. Bahkan beberapa juga membawa roti dan buah-buahan.

Lalu mereka semua duduk menikmati santapan yang sangat lezat, sementara orang asing itu membagi-bagikan sup istimewa yang dimasaknya. Semua orang merasa amat gembira. Mereka tertawa, berbicara dan untuk pertama kalinya mereka makan bersama-sama. Di tengah-tengah kegembiraan mereka itu, orang asing itu diam-diam menyelinap pergi dan meninggalkan batu-sup ajaib yang dapat mereka gunakan setiap kali mereka mau membuat sup yang paling lezat di seluruh dunia.

----------